(Tidak) Bahagia Menjadi Orang tua

(Tidak) Bahagia Menjadi Orang tua

 

Ada yang pernah merasakan hal ini? Capeeeeeek banget menghadapi anak. Bukannya gak cinta, tapi kadang benar-benar ingin ada jeda dari semua kegiatan terkait anak. Tapi tidak jarang rasa lelah ini dibarengi rasa bersalah. “Kok bisa sih saya mikir kaya gini udah syukur diberi rezeki? “Kok bisa sih saya tega ama anak sendiri?” , “Kok saya ga punya hati sih?” Akhirnya semua perasaan negatif ini menjadi satu, dan kalo makin lama dipendam sendiri, semakin beresiko kita terjebak di perasaan tidak bahagia.

Untuk postingan kali ini, gue akan membahas 1 jurnal yang mengupas tuntas tentang Parent’s Wellbeing, alias kesejahteraan orang tua.

Apa yang membuat orang tua kurang bahagia?

  1. Emosi negatif

Walaupun banyak emosi positif yang diperoleh ketika menjadi orang tua, tapi anak juga bisa menjadi sumber emosi negatif orang tua. Frustrasi yang dirasakan orang tuabiasanya berupa: tantangan mengasuh balita, kemalasan anak usia sekolah, dan kekhawatiran melihat emosi remaja. Selain itu, emosi negatif ini juga berupa kekhawatiran orang tua terhadap anak, seperti kesehatan dan keamanan anak.

  1. Gangguan tidur dan kelelahan

Banyak orang tua merasakan hal ini. Walau hal ini terkesan “biasa” untuk orang tua, namun ternyata kelelahan dan gangguantidur bisa berdampak ke berbagai hal. Kurang tidur bisa meningkatkan kemarahan dan perasaan kurang bersahabat. Selain itu, kurang tidur juga bisa berdampak ke kurangnya fleksibilitas berpikir, fokus, regulasi emosi dan penyelesaian masalah.

  1. Kepuasan terhadap pasangan

Beberapa penelitian menemukan bahwa kepuasan terhadap pernikahan menurun setelah memiliki anak. Hal ini bisa terjadi kalau pasangan tidak saling mendukung, dan kurangnya quality time alias waktu pacaran dengan pasangan. Belum lagi masalah perbedaan pendapat dalam pengasuhan yang dapat berdampak pada ketidakpuasan terhadap pasangan.

Selain faktor-faktor di atas, faktor usia anak dan peran gender ternyata berpengaruh juga lho terhadap kesejahteraan orang tua.

Ternyata, masa paling sutris dalam menjadi orang tua adalah……..

Saat anak berusia 0-7 tahun! *3 tahun lagi mimi, bertahanlah :)).

Pada masa ini, orang tua lebih banyak terlibat dalam pekerjaan rumah tangga (nyapu ngepel, kotor lagi, nyapu ngepel, kotor lagi on repeat). Selain itu, kepercayaan diri sebagai orang tua juga lebih rendah di masa ini. Mungkin karena masih beradaptasi ya.. Berhubung masih belajar jadi orang tua, dan kadang terlalu banyak saran dari berbagai pihak  yang membuat kita jadi sering berpikir kalo kita tidak cukup baik untuk anak-anak. *lalu baper….

Lalu, ayah VS ibu, kira-kira siapa yang lebih sutris?

Tidak diragukan lagi, jawabannya adalah Ibu-Ibu :))

Waktu ayah dan anak lebih banyak berupa aktivitas menyenangkan seperti bermain dan bersantai bersama. Sedangkan waktu ibu dan anak mencakup berbagai aktivitas, yang akhirnya membuat perasaan ibu juga cenderung lebih nano nano dibandingkan ayah.

Terus, bagaimana caranya agar lebih bahagia menjadi orang tua? Ada 10 strategi yang gue kutip dari http://www.parentingscience.com. Monggo dipilih…

  1. Kurangi melihat/membaca/mendengar berita negatif

Penelitian menunjukkan, setelah mendapatkan paparan informasi negatif, orang-orang akan cenderung lebih fokus pada  informasi senada seperti gambar-gambar tidak menyenangkan, kata-kata kasar, umpan balik yang tidak menyenangkan, dsb. Jadi memang untuk bisa menjadi lebih bahagia, kurangilah akses untuk hal-hal negatif seperti follow instagram ghosip (if u know what i mean :p), nyinyirin pasangan calon di pilkada (eh), atau media-media yang bisa membuat kita merasa kesal.

  1. Perbanyak berita positf

Kalau berita negatif terkait dengan respon stress, begitu pula sebaliknya berita positif terkait dengan kebahagiaan. Fokus pada tindakan-tindakan kebaikan, bahkan hanya dengan melihat gambar-gambar orang yang berbuat baik, bisa mematikan respon stress di otak. Jadi ingat, pernah baca kalau ketika seseorang membantu orang lain, sebenarnya yang bahagia bukan cuma orang yang dibantu, tapi juga orang yang membantu. Stay positive, parents!

  1. Antisipasi

Penelitian menunjukkan bahwa banyak orang kurang mampu mengantisipasi kemungkinan ketidaknyamanan yang dapat terjadi. Jadi sebelum bertindak coba pikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika kita melakukan hal tersebut. Misalnya, “Kira-kira mainan ini nanti bikin si kakak dan adik berantem gak ya?” Kalo iya, jangan dibawa.

  1. Jangan terburu-buru

Adanya tekanan waktu merupakan salah satu penyebab orang tua stress. Mulailah lebih awal dalam menjalani keseharian. “Tapi saya sudah mulai lebih awal. Saya bangun jam 4 pagi untuk mengerjakan semua hal dan sampai malam masih ga selesai juga”. Hmm kalo ada rejekinya, mungkin bisa minta bantuan orang lain untuk bantu beberapa pekerjaan rumah. “Tapi saya sering ga sreg dengan kerjaan orang lain, saya lebih senang menyelesaikan sendiri”. Hmm kalo sudah begini, mungkin yang bisa gue sarankan adalah dengan menurunkan ekspektasi. Cobalah bertoleransi dengan beberapa hal. Tidak semuanya harus sempurna kok 😉

  1. Ketika ada hal buruk terjadi, lihat dari sudut pandang yang berbeda

Penelitian menunjukkan, manusia bisa mengendalikan rasa stress lebih baik saat mereka menyadari adanya sudut pandang lain dari situasi tersebut. Berterimakasih dan empatilah kepada diri sendiri, karena sudah berhasil melalui situasi yang tidak menyenangkan tersebut. Tapi bagaimana kalau  kita merasa situasi tersebut tidak ada hikmahnya? Jangan tutupi perasaan itu, dan belajarlah untuk menerima bahwa hal tidak menyenangkan memang bagian dari kehidupan. Susah pasti ya, tapi bukan tidak mungkin.. Jangan gengsi untuk bercerita dengan orang yang terpercaya, atau jangan malu untuk menemui psikolog jika memang merasa membutuhkan bantuan.

  1. Kurangi Simpati

Ketika anak mengalami ketidaknyamanan, tidak jarang orang tua, terutama ibu ikut merasakan ketidaknyamanan ini. Perasaan ini ternyata justru berpotensi untuk menambah tekanan bagi orang tua. Jadi alih-alih bersimpati, cobalah berempati. Empati yang dimaksud adalah memikirkan pikiran perasaan orang lain, dan membayangkan hal yang dapat membuat orang tersebut lebih baik. Jadi ketika anak sedih, marah, kecewa, jangan ikut bersedih ya…

    7.Time Out.

Kadang, menyerah untuk mengontrol semua hal sesuai dengan keinginan kita dapat membantu mengatasi stress. Penelitian menunjukkan bahwa manusia beradaptasi lebih baik ketika mereka berhenti menghitung sisa waktu, mengkhawatirkan hari esok,atau berpikir seberapa capek mereka. Dengan “menyerah”, akan memudahkan kita untuk beristirahat lebih tenang.

  1. Bantu anak untuk meregulasi emosi

Regulasi atau pengaturan emosi itu dipelajari, bukan alami “dari sononya”. Jadi jangan heran kalau sewaktu-waktu melihat anak tantrum. Ajari anak mengenali emosi, membicarakan perasaan anak, dapat membantu anak mengatur emosinya. Yang menarik adalah, ketika orang tua mengajarkan anak untuk mengontrol emosi, ternyata bisa membantu orang tua untuk mengontrol emosi sendiri. Mungkin kaya jadi refleksi ya..

  1. Luangkan waktu untuk inspirasi

Penelitian menunjukkan, kebahagiaan yang bermakna dapat menghalangi stress. Kebahagiaan bermakna itu bukan “hadiah instan” kaya makan coklat, makan makanan enak, beli baju, mandi berendam, dsb. Tapi lebih ke kepuasan dalam mencapai suatu tujuan, memiliki kebermaknaan. Sekarang udah banyak ya sebenarnya komunitas yang bisa memfasilitasi ibu-ibu tetap berkarya. Coba cari tahu komunitas yang sesuai dengan hobi yang kita punya.

  1. Olahraga!

Yap, ternyata olahraga sangat bermanfaat untuk meredakan stress fisik maupun psikologis. Mens sana in corpore sano!

Selain 10 tips di atas, menurut gue meluangkan waktu dari aktivitas “dunia” sebenarnya adalah salah satu cara jitu untuk mengurangi stress. Caranya ya bisa bermacam-macam, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Percaya bahwa ada yang Maha Kuasa di atas semua lika liku kehidupan ini, somehow sering membuat gue merasa lebih tenang dan tidak terbebani.

Semoga bermanfaat ya 😉

Referensi:

Nelson, S.K., Kushlev,K. (2013). The Pains and Pleasures of Parenting: When, Why, and How Is Parenthood Associated With More or Less Well-Being?. American Psychological Association.

http://www.parentingscience.com/parenting-stress-evidence-based-tips.html

PD jadi orang tua!

PD jadi orang tua!

Masa transisi sebagai orang tua dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menekan bagi orang tua baru. Adanya peran baru, perlu untuk belajar keterampilan baru, hubungan yang baru, serta proses evaluasi terhadap peran sebelumnya (Cowan &Cowan,1995). Yang merasa “iya ini gue banget” ngacung! Gue juga merasakan hal yang sama. Seneng sih seneng, tapi ada kalanya (apa sering?:p) kelakuan anak bikin gue sutris. Ketika tidak berhasil mengatasi tantrum misalnya, kadang ada perasaan “gue bukan orang tua yang baik”. Dari hasil sharing pengalaman ataupun curhatan para ibu-ibu senasib pun, gue menyadari bahwa orang tua, terutama ibu-ibu, mudah sekali merasa bersalah. Rasa bersalah ini ujung-ujungnya bisa membuat kita gak PD dan selalu ragu menjadi orang tua.

Pengasuhan (parenting) bukanlah keterampilan bawaan. Kita belajar untuk menjadi orang tua dari orang tua sendiri, media, dan pengalaman pribadi. Pengalaman-pengalaman ini bisa menjadi pengalaman yang positif, negatif, membantu atau malah membingungkan. Jadi apa yang membuat orang tua bersemangat untuk tetap menjalani perannya walaupun kelelahan menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan dalam pengasuhan? Parental Self Efficacy jawabannya. (Grimes 2012)

Parental self efficacy (berikutnya disingkat sebagai PSE) adalah dorongan motivasional yang membuat orang tua tetap gigih menghadapi berbagai kesulitan dalam masa pengasuhan  (Bandura, 1982).  Orang tua yang punya PSE yang baik, percaya bahwa mereka memang pantas dan memiliki kemampuan sebagai orang tua.  Dengan kata lain, PD jadi orang tua ya 😉

Lalu kenapa penting sih  PD jadi orang tua?

“Persepsi orang tua terhadap kemampuannya menjadi orang tua berpengaruh terhadap cara mereka menjadi orang tua  (Coleman and Karraker, 1998).

Penelitian menemukan bahwa tingkah laku orang tua pada lima tahun pertama kehidupan anak berperan penting terhadap perkembangan kognitif dan sosial anak. Interaksi dan pengalaman yang diperoleh anak dari keluarga menghasilkan kerangka berpikir anak. Penelitian di negara berkembang menunjukkan kepercayaan diri sebagai orang tua penting bagi kesehatan jiwa anak. Pola asuh yang positif dan proaktif berhubungan erat dengan kepercayaan diri dan keterampilan sosial anak. Kepercayaan diri sebagai orang tua adalah faktor penting dalam meningkatkan hubungan yang positif antara anak dan orang tua.  Penelitian lain dari Kuhn dan Carter juga menemukan bahwa kepercayaan diri berhubungan erat dengan kesejahteraan mental orang tua.

bagan

Bagan di atas didasari oleh penelitian yang dilakukan oleh Furstenberg (1993) dan teori self efficacy Bandura (1997). Orang tua yang merasa Pede dengan kemampuannya sebagai orang tua, biasanya akan menerapkan suatu strategi pengasuhan. Strategi ini akan mempengaruhi keberhasilan anak. secara akademis maupun psikologis. Di sisi lain, kepercayaan diri juga dapat berpengaruh langsung pada keberhasilan anak. Orang tua yang PD, dapat menjadi panutan bagi anaknya untuk tampil Pede juga. Hubungan antara 3 variabel tersebut ternyata saling mempengaruhi satu sama lain.

  1. Pengasuhan yang efektif akan meningkatkan Kepercayaan Diri orang tua
  2. Orang tua dengan PD yang rendah akan setengah-setengah dalam menerapkan strategi pengasuhan dan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan, sehingga akhirnya merasa dirinya tidak mampu.
  3. Selain itu, keberhasilan anak akan meningkatkan kepercayaan diri orang tua mengenai kemampuan mereka sebagai orang tua.

Namun, orang tua dengan PD yang baik,  memang tidak selalu berhasil dalam mendidik anak. Apa yang terjadi saat orang tua menghadapi kegagalan? Menariknya,  saat menghadapi kegagalan, orang tua dengan kepercayaan diri yang baik tidak akan mengalami rendah diri ataupun berkubang dalam rasa kegagalan itu. Alih-alih menyerah atau meragukan kemampuan diri, mereka menganggap kegagalan adalah kemunduran sementara yang dapat diatasi dengan usaha maksimal. Kegigihan ini akan diamati oleh anak, sehingga anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua yang tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan.

Lalu, bagaimana ya caranya menjadi orang tua yang PD?

Menurut tulisan Kevin D. Arnold di psychologytoday ada beberapa cara untuk Pede jadi orangtua:

  1. Santai!

Ketakutan membuat kita melakukan sesuatu tanpa berpikir matang. Sebelum melakukan sesuatu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengontrol tingkah laku kita sebagai orangtua:

  1. (Tarik napas buang napas)
  2. (Fokus pada kegiatan bernapas yang sedang kita lakukan agar membantu lebih cepat tenang)
  3. latihan relaksasi dan fokus biar lebih mudah dipraktekkan di situasi yang menekan.

Dengan terbiasa relaksasi, akan lebih mudah bagi orang tua menghadapi berbagai tantangan dalam pengasuhan. Biar ga gampang ikut tantrum juga pas anak tantrum hehe..

  1. “Dengarkan” isi pikiran

Belajar mendengarkan isi pikiran, akan memudahkan kita memilah pikiran positif dan negatif. Kalimat-kalimat negatif seperti  “Saya menyerah. Saya ga tau harus gimana lagi!”, “Saya capek” dan berbagai bentuk kalimat serupa biasanya paling cepat terpikirkan oleh orang tua ketika menghadapi tingkah laku anak. Jadi memang sebaiknya orang tua mengambil jeda untuk relaksasi dan memikirkan hal-hal positif sebelum bereaksi terhadap anak.

Contoh mengganti pikiran negatif dengan pikiran positif:

“Anak saya ga pernah mendengarkan saya.” vs. “Anak saya belum paham apa yang saya maksud, jadi saya harus lebih jelas”

“Saya tidak tau bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik.” vs. “Cara ini tidak berhasil. Saya harus mencoba cara lain nanti.”

daan lain sebagainya.

Nah kuncinya untuk berpikir positif adalah dengan terus membiasakan diri berpikir positif, karena otak “terbentuk” dari pengalaman/pembiasaan. Pikiran positif inilah yang nantinya akan membentuk kepercayaan diri kita sebagai orang tua.

Kalo dari gue pribadi, bergabung di grup whatsapp dengan teman-teman yang sama-sama punya anak cukup membantu kalau lagi bingung atau kalo memang sekedar curhat. Dan berhubung gue muslim, jadi kadang wudhu juga sangat bermanfaat untuk menenangkan pikiran.

Kalau ada yang membutuhkan bantuan gue/shanti untuk berdiskusi tentang serba serbi pengasuhan anak, kita insyaAllah bersedia kok. Email aja ya di jurnalmama.id@gmail.co.. Kali aja bisa membantu mengurangi kecemasan yang ada…..*tsah

Referensi:

  Abarashi, Z., Tahmassian, K., Mazaheri, M.A. (2013). Parental Self-Efficacy As a Determining Factor in Healthy Mother-Child Interaction: A Pilot Study in Iran.

     Ardelt, M. (2001). Effects of Mothers’ Parental Efficacy Beliefs and Promotive Parenting
Strategies on Inner-City Youth.
Grimes, L. (2012). The role of parental self efficacy and parental knowledge in parent-infant interactions during transition to parenthood.

Gambar diunduh dari https://www.littlebigcrafter.com

Mari belajar “menulis”

Mari belajar “menulis”

 

 

Salah satu “momok” pengasuhan orang tua adalah menulis. Menurut orang-orang yang udah ngajarin anaknya nulis, “Gemes-gemes” lucu gitu deh ya prosesnya :)) Sebelum mengajarkan menulis, sebaiknya jauuuh sebelum itu anak dibekali dengan keterampilan pra menulis. Mari-mari dikupas tuntas tentang keterampilan pra menulis pada anak usia dini.

Berikut adalah milestone perkembangan menulis pada anak:

Tahap 1: Corat coret Acak(random scribblings) (15 bulan – 2,5 tahun)

Pada tahapan ini, anak baru menyadari kalau gerakan yang mereka lakukan menghasilkan garis dan coretan di kertas. Biasanya coretan ini berupa coretan besar, dan anak memegang krayon/pensil dengan cara menggenggam. Pada tahapan ini, kesenangan yang dirasakan oleh anak berupa merasakan krayon di tangan, wangi cat, atau kekenyalan playdough.  Pada masa ini, memang tahapan berpikir anak adalah sensorimotor, yang artinya mereka belajar dari hal-hal yang dirasakan oleh panca indera. Tidak semua anak bisa enjoy dengan kegiatan penginderaan (sensory play) seperti misalnya melukis dengan jari (finger painting). Tidak usah khawatir, nanti ketika anak sudah mulai terbiasa dengan penginderaannya, bisa mulai diperkenalkan lagi aktivitas-aktivitas sensory play.

Tahap 2: Coretan terkontrol (controlled scribblings) (2-3 tahun)

Seiring dengan perkembangan fisik anak, coretan mereka pun mulai lebih terkontrol. Mulai membuat coretan berbentuk garis ataupun lingkaran. Semakin lama, cara anak memegang pensil/krayon pun mulai dapat diarahkan dengan meletakkan pensil antara jempol dan jari telunjuk.

Tahap 3: Garis dan Pola (2,5 tahun –  3½ tahun)

Pada tahapan ini, anak paham bahwa menulis terdiri dari garis, lengkung, dan pola-pola berulang. Mereka akan mencoba meniru pola ini. Walaupun belum berbentuk huruf, tapi sudah terdiri dari garis, titik, dan lengkung. Kadang mereka akan memberi tahu apa yang mereka tuliskan.

Tahap 4: Pictures of Objects or People (3-5 tahun)

Pada awalnya, anak memang akan senang memberi judul pada “gambar” yang mereka buat. Zara banget nih, kadang bikin bulet-bulet garis apalah, dia bilang ini gambar ikan, atau rumah atau karangan bebas lainnya :)) Lama kelamaan, gambar ini akan lebih terencana. Biasanya anak akan memulai dari gambar lingkaran, makanya objek yang paling umum digambar seperti matahari, bulan, orang. Ketika gambar anak lebih “bertujuan”, anak mulai dapat membedakan gambar dan tulisan. Kadang orang tua akan melihat di bawah gambar yang dibuat ada “tulisan” judul gambarnya. Jangan lupa selalu ajak anak menceritakan apa yang digambar ya.

Tahap 5: Letter and Word Practice (3-5 years)

Pengalaman anak tentang huruf akan semakin berkembang, dan biasanya anak mulai belajar menulis nama. Kadang mereka juga menulis huruf-huruf yang mirip dengan huruf yang pernah dilihat. Pada tahap ini, yang penting bukan benar salahnya. tapi pemahaman anak bahwa tulisan atau coretan yang mereka buat memiliki makna.

 

Perkembangan anak memang sangat bervariasi. Makanya milestone menulis ini pun tidak begitu terpaku pada usia anak. Tapi kalo di kasus gue, memang terlihat perbedaan usia dan perbedaan kemampuan “menulis”. Contohnya di gambar di bawah ini, gambar yang lebih rapi adalah gambar ponakan gue yang berusia 5.5 tahun. Gambar berikutnya adalah gambar anak gue yang berusia 4 tahun.

img_20170109_100721

Segitiga dan Segi Empat Toshi Vs Zara

img_20170109_100732

Tapi gue juga pernah liat anak-anak seumuran Zara yang keterampilan motorik halusnya udah level cadas. Itu rejeki masing-masing ya Bapak Ibu :))

 

Nah, sebenarnya, ada beberapa hal yang perlu dimiliki oleh anak sebelum mereka diajarkan menulis. Anak-anak harus:

  • Menunjukkan keinginan menulis atau menggambar. Dimulai dari ketertarikan mereka terhadap warna dasar dan bentuk dasar (segitiga, lingkaran, segi empat). Nah penting nih. Kalo anaknya memang belum suka-suka banget, ga usah dipaksa. Tapi juga jangan menyerah untuk coba. Jadi misalnya tetap ada kegiatan pra menulis setiap hari, dengan rentang waktu yang singkat misalnya Cuma 5-10 menit.
  • Memiliki keseimbangan tubuh yang baik dan dapat duduk di kursi. Hal ini sangat terkait dengan kekuatan tubuh bagian atas. Aktivitas-aktivitas memanjat dapat bermanfaat untuk menguatkan bagian ini.
  • Dapat menggerakkan pensil dari berbagai tempat di kertas, dan tangan lainnya untuk menahan kertas.
  • Dapat berkonsentrasi cukup lama untuk menulis.
  • Tentukan tangan yang dominan bagi anak. Kalo anak memang terlihat lebih dominan menggunakan tangan kiri, jangan dipaksakan menulis dengan tangan kanan.

Di zaman serba internet ini, banyaaaaaaaak sekali ide-ide kegiatan untuk mendukung keterampilan motorik halus anak. Kegiatan-kegiatan pra menulis itu bukan melulu menggunakan pensil/krayon. Bukan melulu mencoret-coret atau menggambar. Intinya adalah kegiatan-kegiatan yang meningkatkan koordinasi tangan dan mata anak. Aktivitas-aktivitas yang bisa dicoba adalah:

  • Meronce
  • Bermain Play-doh (playdough), kegiatan yang meliputi gerakan menggiling dengan tangan atau dengan bantuan rolling pin.
  • Menggunakan gunting untuk menggunting bentuk-bentuk geometri (segitiga, lingkaran, persegi, dll)
  • Menggunakan penjepit untuk mengambil benda. (Kalo gue pake penjepit makanan yang buat ambil gorengan itu lho.. awalnya Zara pake penjepit yang gede, tapi makin besar keterampilan motorik halusnya memang makin baik dan bisa pakai penjepit yang kecil).
  • Kegiatan sehari-hari yang terkait dengan kekuatan jari seperti membuka botol minum, penutup selai, dll..
  • Berlatih membuat bentuk-bentuk dasar (l, —, O, +, /, persegi, \, X, and Δ).
  • Membuat kerajinan tangan misalnya membuat topeng dari kertas, kardus, dll.
  • Bermain lego, balok, dan sejenisnya.

Plus ditambah dengan “tren” ibu-Montessori di instagram/pinterest, makin banyak ide permainan yang bisa kita coba di rumah.

“Duuuhhhh tapi saya ga bisa bikin sensory play ala-ala ibu-ibu kece di instagram…”

Tenang, YOU ARE NOT ALONE. Hahhahahaha.. Gue adalah ibu-ibu cupu yang keterampilan motorik halusnya tergolong menyedihkan *Yang pernah liat tulisan tangan gue pasti langsung teriak “SETUJUU” :)). Prinsip gue selalu: Lakukan yang bisa kita lakukan. Berikan yang kita mampu.

Ga perlu mahal-mahal lho, barang sehari-hari di rumah banyak yang bisa digunakan untuk melatih keterampilan motorik halus. Gue pribadi karena suka masak, biasanya suka melibatkan Zara di beberapa kegiatan. Mulai dari misahin bawang dari bonggolnya, motekin kangkung, ngaduk adonan pancake, daan lain sebagainya. Nah tapi syaratnya kalo mau mengikutsertakan anak di kegiatan sehari-hari, ortunya ga boleh bawel. Misalnya adonan jadi tumpah-tumpah, trus anaknya diomelin. Lha wong memang bukan tugas dia yaak :))

13507074_10153844616428845_5051098786651372438_n

*Zara dan bawang putih*

Nah, kalo anaknya sudah semakin terbiasa dengan aktivitas-aktivitas pra menulis, boleh deh mulai diajari menulis huruf. Biasanya di usia 5 tahunan anak mulai “matang”, tergantung perkembangan masing-masing anak ya.. Langkah-langkahnya:

  •  Mengikuti gari putus-putus
  • Mencontoh huruf
  • melihat huruf, ditutup, lalu mencoba menulis sendiri
  • Menulis huruf sendiri dari ingatan tanpa contoh

Selamat tulis-menulis yaaaaa

 

Referensi:

https://www.zerotothree.org/resources/305-learning-to-write-and-draw

https://childdevelopment.com.au/areas-of-concern/writing/writing-readiness-pre-writing-skills/

http://www.dcsi.sa.gov.au/

http://www.lizs-early-learning-spot.com/pre-writing-skills-essential-for-early-learners/

 

 

 

 

 

 

Masuk PAUD: Perlu gak ya?

Masuk PAUD: Perlu gak ya?

Beberapa pertanyaan yang cukup sering berseliweran semenjak Jurnal Mama “diresmikan” adalah “Kalau PAUD wajib ga sih buat anak?”. Secara pribadi pun gue beberapa kali ditanyakan mengenai hal ini oleh orang tua seangkatan gue yang mengalami pergalauan yang sama. Kekhawatiran standarnya biasanya “Kalo gak PAUD, sosialisasi dia gimana-gimana gak sih?” atau “Kalo gak PAUD, akan ketinggalan gak sih anak gue dengan anak lain?”.

Menurut Permendikbud 146 Tahun 2014, PAUD merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan belajar dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Terdapat 3 kategori PAUD yaitu :

  1. Layanan PAUD untuk usia sejak lahir sampai dengan 6 (enam) tahun terdiri atas Taman Penitipan Anak dan Satuan PAUD Sejenis (SPS), dan yang sederajat.
  2. Layanan PAUD untuk usia 2 (dua) sampai dengan 4 (empat) tahun terdiri atas Kelompok Bermain (KB) dan yang sejenisnya.
  3. Layanan PAUD untuk usia 4 (empat) sampai dengan 6 (enam) tahun terdiri atas Taman Kanak-kanak (TK)/Raudhatul Athfal (RA)/Bustanul Athfal (BA), dan yang sederajat.

Di Indonesia, terdapat ketentuan WAJIB PAUD selama satu tahun sebelum masuk SD. Ketentuan ini masih berlaku secara bertahap di setiap daerah di Indonesia.  (http://paud.kemdikbud.go.id/). Dari peraturan ini, menunjukkan bahwa yang tergolong wajib adalah Layanan PAUD setingkat Taman Kanak-Kanak. Untuk menyamakan persepsi, kita akan membahas lebih dalam mengenai perlu/tidaknya Layanan Paud kategori A dan B ya.. Layanan Paud ini bisa berupa Taman penitipan Anak (Daycare), Kelompok bermain, baby gym class, dan berbagai kegiatan untuk anak-anak usia 2-4 tahun.

Lalu, haruskah anak saya ikutan PAUD?

Psikolog dari University Of Texas, Elliot Tucker-Drob melakukan penelitian di 600 pasang anak kembar. Tucker menyebutkan bahwa faktor lingkungan rumah berperan lebih besar dari faktor keikutsertaan di PAUD pada kemampuan anak di sekolah TK. Penelitian ini juga melihat bahwa kegiatan PAUD lebih bermanfaat pada anak-anak yang berada di lingkungan rumah yang kurang mendukung. Sedangkan bagi anak-anak yang berada di lingkungan yang suportif, efek PAUD tidak berdampak begitu besar. Hasil dari program Perry Preschool intervention (Schweinhart et al., 1993 dalam Leak, Duncan,& Li, 2010) menunjukkan bahwa PAUD berdampak terhadap IQ anak, namun dampaknya cenderung menghilang setelah umur 8 tahun.

Jadi memang manfaat PAUD ini akan lebih besar pada anak-anak yang sulit mendapatkan stimulus dari orang tuanya.

Jadi, PAUD gak perlu dong?

Nah, saat ini dengan kondisi berbagai kondisi orang tua yang semakin beragam (orang tua yang keduanya bekerja penuh waktu, orang tua tunggal, dsb) lalu ditambah dengan kemacetan bagi orang tua yang berada di Ibukota (eh ini mah curhat :p) , PAUD dapat membantu memfasilitasi perkembangan anak. Penelitian dari Ramey (dalam Wilen, 2003) menemukan bahwa anak yang memperoleh pendidikan usia dini yang berkualitas memiliki tingkah laku yang baik di kelas. Lebih lanjut, bagi anak-anak yang memang sulit mendapatkan stimulus dari orang tua, maka pendidikan usia dini  dapat bermanfaat untuk perkembangan kognitif, bahasa dan emosinya (Wilen, 2003).

Permasalahan lainnya adalah sebaiknya anak dimasukin ke daycare, kelompok bermain, baby gym class, atau les ini itu?

Ini mah sesuai situasi kondisi bapak-bapak ibu-ibu sekalian. Kalau orang tua masih mampu memfasilitasi perkembangan anak, tidak ikut Kelompok Bermain juga gak apa-apa. Gue pribadi memilih program daycare sejak Zara berusia 2 tahun. Gue memang berencana mulai bekerja kalau Zara sudah lulus disapih. Daycare merupakan pilihan yang paling sesuai buat gue kalo gue lagi ada jadwal bekerja. Kalo dimasukin ke Kelompok Bermain (KB), gue akan kesulitan dengan jadwal antar jemput anak. Belum lagi jadwal KB yang sudah pasti hari-harinya. Sebagai pekerja paruh waktu, jadwal yang rigid untuk sekolah Zara bukanlah pilihan yang sesuai buat gue.. Yang gue mau, kalo gue lagi gak kerja, Zara gak perlu sekolah karena bisa main dengan gue di rumah. Atau kalo gue cuma kerja sebentar, Zara bisa gue jemput siang hari. Fleksibilitas inilah yang membuat gue lebih sreg dengan daycare. Nah tiap keluarga pasti beda-beda kondisinya. Jadi silahkan disesuaikan saja..

“Duh tapi saya khawatir perkembangan anak saya ketinggalan dari anak lain..”

Untuk mengetahui perkembangan anak, bukanlah dengan cara membandingkan perkembangannya dengan anak-anak lain yang ada di sekitar kita. Silahkan bandingkan perkembangan anak dengan tahapan perkembangan sesuai usianya. Indikator perkembangan anak salah satunya dapat dilihat di http://paud.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2016/04/Permendikbud-146-Tahun-2014.pdf (halaman 15-37).

Kalau ada yang masih belum dicapai, disitulah tugas orang tua untuk memberikan stimulus-stimulus yang sesuai.

Referensi:

Leak,J., Duncan, G., & Li,W.( 2010). Is Timing Everything? How Early Childhood Education Program Impacts Vary by Starting Age, Program Duration and Time Since the End of the Program. Prepared for presentation at the Association for Policy Analysis and Management meetings, November 4-6, 2010 in Boston, MA.

Tucker-Drob, E. (2012). Preschools Reduce Early Academic-Achievement Gaps A Longitudinal Twin Approach. University Of Texas. Diunduh dari http://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/0956797611426728

Wilen, J. (2003). Ready for School: The Case for Including Babies and Toddlers as We Expand Preschool Opportunities. EDUCATIONAL RESOURCES INFORMATION
CENTER (ERIC).

http://paud.kemdikbud.go.id

*Featured image diambil dari google: https://goo.gl/X4M4m8

 

Aku ingin begini, aku ingin begitu

Aku ingin begini, aku ingin begitu

Kalau berbicara tentang perkembangan sosial-emosional, banyaaaak sekali aspek yang perlu dibahas. Tentang harga diri, konsep diri, pengenalan dan pengaturan emosi, dan lain sebagainya. Tapi kali ini gue bakal bahas perkembangan emosi secara umum, teori favorit gue, Teori Psikososial Erikson. Menurut Erikson, pada usia dini, anak-anak ada di tahap Initiative Vs Guilt (Inisiatif versus Rasa Bersalah).

Pada tahapan ini, anak-anak banyak maunya. Pengen coba ini itu, bisa ini itu. Di saat bersamaan anak belajar bahwa ada tindakan-tindakannya yang sejalan/tidak sejalan dengan norma/aturan sosialnya.

Nah disini nih yang agak-agak tricky. Energi anak-anak yang besar dan inisiatif mereka untuk coba berbagai hal kadang justru membuat orang tua sutris. Berhubung ortu sutris, biasanya akan banyak larangan ke anaknya. Ketika semakin banyak larangan dan batasan dari orang tua, disitulah anak akan mengembangkan guilt alias rasa bersalah. Bahkan untuk anak seusia itu, dimarahin atas inisiatif yang dia lakukan bisa dipersepsikan sebagai “aku anak nakal”. Kalo terus-terusan dilarang, anak akan merasa apapun yang dia lakukan salah. Dampaknya, anak jadi ragu-ragu untuk melakukan sesuatu secara mandiri.

Zara sekarang lagi di tahapan initiative Vs Guilt  ini. Serba mau nyoba dan mau bantu. Bahkan setelah beberapa hari lalu ulang tahun ke empat, gayanya udah kaya abis ulang tahun ke 13. Mandi ga mau dibantuin, dia bilang “aku bisa sendiri kok, kan udah 4 tahun” (plus pake acara ngunci pintu kamar mandi bzzzz). Atau kaya pas gue dan si mbah lagi sibuk bungkus-bungkusin pesanan, dia akan bilang “aku juga mau bungkusin, aku bisa”. Apapun lah aktivitasnya, asal dia merasa dilibatkan dan punya peran, dia akan senang sekali.

Dari dulu, gue pribadi memang terbiasa menstimulus perkembangannya dari kegiatan-kegiatan sehari-hari. Alasan intinya karena gue minus banget kalo stimulus lewat kegiatan yang motorik halus kaya gunting-gunting, mewarnai, atau apalah itu yang banyak dilakukan ibu-ibu gahul montessori di Instagram. :)). Jadi lakukan sajalah yang gue bisa dan biasa. Kegiatannya misalnya bantu motekin kangkung, misahin siung bawang putih, bersihin garasi, cuci piring, dan lain sebagainya. Zara juga udah bisa masak telur dadar sendiri sebelum umur 3 tahun. Kalau untuk masak, tentu harus didampingi terus ya.. Dan beberapa masakan kaya cumi goreng tepung, gue cuma bolehin dia bantu di proses awal. Pas goreng-goreng dia harus jauh-jauh karena cumi meletup-letup kalo digoreng.

z

percaya ga percaya, kadang kalo bosen dia suka minta sendiri pengen cuci piring.

Salah satu peristiwa inisiatif berujung miris yang pernah zara lakukan adalah ngasih makan ikan di kolam pake ROTI :))  Dia baru kasih tau pas itu roti udah pada direbutin sama ikan-ikan hias. Gue kaget dan takut juga karena itu ikan punya si Babe :)) Akhirnya gue coba ambilin roti-roti yang tersisa dan kasih tau ke Zara kalau ikan makananya memang Cuma makanan ikan yang biasa.. Jangan dikasi yang lain.. Besoknya bener aja ikan-ikan pada mati hahahaha… Hikmahnya pas besok ikan-ikan itu mati, Zara jadi tau kalau ikan Cuma boleh dikasi pake makananya, kalo engga ikannya mati.. Inti konsep dari tahap perkembangan ini memang salah satunya adalah memfasilitasi anak belajar dari kesalahannya.

Selain itu, kalau anak ingin dilibatkan dan membantu, hargailah tindakan yang sudah dia lakukan. Misalnya kaya cuci piring, kalo ternyata masih agak licin ya nanti pas anaknya udah ga liat, monggo cuci ulang.. Jangan kelewat perfeksionis juga emak/bapaknya. Oiya kadang ada aja kok saatnya gue ngamuk kalo kelakuan dia “ada-ada aja”. Tapi makin kesini, gue lebih santai. Selalu ingat-ingat prinsip “Choose your own battle”. Selama gak membahayakan anak ya biarin ajalah dia nyoba apapun itu.

Lalu, kenapa sih penting memfasilitasi perkembangan emosi anak?

Denham (2006) menyebutkan bahwa kemampuan sosial emosional sangat menentukan keberhasilan anak di masa sekolah nantinya. Anak-anak yang “sehat” secara emosi akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan  berbagai tuntutan di sekolah. Aspek-aspek sosial-emosi juga menjadi pertimbangan utama untuk menentukan siap/tidaknya anak mulai sekolah.

 Jadi, yuk mari biarin anak cuci piring *eh bukan deng :))

 

Referensi:

Papalia, Olds, Feldman (2009). Human Development (Perkembangan Manusia).

Denham, S.A. (2006). Social–Emotional Competence as Support for School Readiness: What Is It and How Do We Assess It?

http://www.uen.org

 

The Hitting Toddler

The Hitting Toddler

img_20160709_105659_hdr

*Batgirl Vs Supergirl in real life :p

 

 

Waktu usia 2 tahunan, Zara seringkali memukul kalau kesal. Bukan cuma ke yang lebih kecil, tapi juga ke orang yang lebih tua. Akhirnya gue cari tau lebih dalam tentang hal ini. Syukurlah gue nemu artikel yang bermanfaat dan membantu gue untuk ngarahin perilakunya. Salah satu yang pernah gue baca yang ini:

http://www.growingajeweledrose.com/2012/09/kids-who-hit-and-how-to-teach-them-not.html?m=1

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua kalau anaknya memukul.

  1. Menjelaskan kegunaan tangan untuk apa. Imo, edukasi ini lebih efektif dilakukan ketika anak lagi gak tantrum atau bukan setelah mereka memukul. Yang ada makin galak kalau lagi marah malah diceramahin :))  Jadi pas dia lagi adem ayem, gue jelasin ke dia “tangan buat makan.. Tangan buat sayang.. (sambi elusin tangan dia ke pipi gue), dan ajak dia kasih ide tangan bisa buat apa lagi…  Nanti, pas dia tantrum dan memukul lagi, cukup diingatkan, “Tangan buat apa dek? Tidak untuk memukul orang kan?” Lalu setelah itu nikmati sajalah konser tangisan air mata selama 15 menit (kalau beruntung :p)
  2. Jauhkan dari subjek pukulan. Ini kejadian banget, waktu dia mukul adik sepupunya yang beda 9 bulan. Akhirnya dia gue tarik ke ruangan lain. Pake metode Time In. Jadi gue ada di ruangan yang sama dengan dia, menunggu dia tenang.
  3. Sudahi waktu bermainnya. Kalau marah-marahnya panjang dan parah, jangan ragu untuk menyudahi playdate nya, agar anak tau kalau perilaku itu tidak bisa ditolerir.
  4. Awasi situasi yang dapat memancing kemarahan anak. Di artikel ini disebutkan kalau orang tua bisa melakukan intervensi dini kalau sudah mulai melihat tanda-tanda kemarahan anak. Konfirmasi situasi yang membuat anak marah, lalu berikan alternatif solusi selain memukul.
  5. Try to stay calm. Doh ini pe-er banget emang :)). Ingat selalu rumus orang tua marah + anak marah = Anak tantrum lebih lama. Orang tua yang bisa menunjukkan regulasi emosi yang baik, akan menjadi contoh bagi anak saat menghadapi hal yang tidak menyenangkan. (Ingat bahwa anak belajar dari proses modelling alias meniru)
  6. Mengajak anak berpikir mengenai saat ia menjadi objek pukulan. Berhubung periode memukul ini cukup lazim di kalangan toddler, kadang mungkin anak kita yang akan menjadi sasaran. Kalau nanti dia mau melakukan hal yang sama, ajak anak mengingat kembali rasanya ketika ia menjadi korban. Sekalian belajar empati kan..

 

 

Pada akhirnya, tahapan memukul ini berakhir juga alhamdulillah. Dengan pengulangan terus menerus mengenai kegunaan tangan di setiap kesempatan yang ada, berhubung hal ini cukup membuat gue senewen banget waktu itu.  Semoga yang mengalami masalah yang sama bisa terbantu juga ya… 🙂

Perkembangan Fisik Anak Usia Dini

Perkembangan Fisik Anak Usia Dini

 

Yang suka tepar kalo diajakin main sama anaknya, ngacung! (Ikutan ngacung X))

Ngaku dosa nih, gak jarang kalo anak gue ngajakin maen yang capek-capek, biasanya akan gue alihkan ke permainan yang kurang berkeringat kaya bercerita, main tulis-tulis, roleplay, dan lain-lain(emak-emak males X)). Padahal, stimulasi fisik itu pentiiing sekali untuk anak usia dini.

Pada usia dini, perkembangan fisik anak-anak ditandai dengan perubahan-perubahan signifikan seperti tinggi badan, kekuatan otot, serta berat dan proporsi badan. Perubahan ini membuat anak mampu bergerak secara lebih kompleks dan terkoordinir. (Casby, 2003; Trawick-Smith, 2014). Penelitian menunjukkan bahwa koordinasi motorik tidak begitu saja muncul sesuai dengan pertumbuhan usia. Oleh karena itu, penting sekali lingkungan sekitar menyediakan stimulus bagi anak untuk dapat mengembangkan kemampuan motoriknya (Trawick-Smith, 2014)

Dari artikel yang ditulis Center of execellence childhood development, disebutkan beberapa manfaat kegiatan fisik, seperti mengurangi berbagai resiko masalah kesehatan misalnya obesitas, masalah pernafasan, jantung dll. Yang lebih menarik, ternyata kegiatan fisik dampaknya bukan cuma untuk kesehatan, tapi juga  bermanfaat untuk perkembangan kognitif, emosi, dan sosial. Melalui berbagai kegiatan fisik, anak belajar mengatur energi, mengembangkan perasaan mampu menguasai sesuatu, kesadaran sosial dan kemampuan spasial.

um

*main umpel-umpelan gini pun ada manfaatnya lho. Anak belajar menjadi bagian dari kelompok, bisa koreksi sendiri perilakunya (ex: kalau teman merasa kesakitan, harus lepasin teman), belajar tau yang dirasakan orang lain, dll.  (Pic from modernmama.com)

 

 

img_20141110_101913

Permainan panjat-panjat kaya begini, melatih koordinasi motorik dan juga  kemampuan kognitif.

 

Bahkan ada bukti juga yang menyatakan kalau permainan-permainan fisik dan terstruktur dapat membantu anak untuk berkonsentrasi. Gue jadi inget, dulu pernah ikut seminar tentang kemampuan matematika. Ternyata, keseimbangan fisik itu penting untuk anak bisa belajar matematika.  Anak yang mengalami kesulitan belajar di matematika bahkan intervensi awalnya seperti jalan di kayu titian dan memperbaiki postur tubuh. Hal ini dilakukan karena belajarmembutuhkan konsentrasi yang baik. Konsentrasi yang baik berasal dari koordinasi tubuh yang baik juga.

Jenis kegiatan fisik dibagi ke dua kategori, berdasarkan intensitasnya. Kegiatan fisik ringan, contohnya berjalan pelan, berdiri, melukis, dan mengganti baju. Lalu kegiatan fisik sedang-berat, seperti berlari, melompat, dan main bola. Kegiatan fisik ini dapat dilakukan melalui kegiatan berstruktur seperti senam dan berenang. Bisa juga dilakukan melalui kegiatan tidak berstruktur seperti main ke taman, joget-joget, atau ke arena permainan.

Pedoman yang dikeluarkan National Association for Sport and Physical Education menyarankan bahwa anak usia dini perlu melakukan kegiatan fisik paling tidak selama 120 menit per hari. Kegiatan fisiknya pun perlu imbang antara kegiatan yang berstruktur dan tidak berstruktur. Makanya disarankan sekali bagi anak usia dini untuk banyak berkegiatan di luar ruangan.

Oiya tapi kalau kegiatan fisik memang sebaiknya tidak dilakukan di malam hari, karena akan mengganggu waktu tidur. Seinget gue, kegiatan fisik itu gak boleh dilakukan dua jam sebelum waktu tidur, karena akan membuat anak susah tidur. Jadi kegiatan main sebelum tidur yang disarankan biasanya aktivitas-aktivitas yang lebih tenang kaya mewarnai, baca buku, dll.

 

 

Referensi:

Physical Activity in Early Childhood: Setting The Stage for Lifelong Healthy Habits. Parenting Series. (2011). Center of execellence childhood development.
Trawick-Smith, J. (2014). The Physical Play and Motor Development of Young Children: A Review of Literature and Implications for Practice. Center for Early Childhood Education Eastern Connecticut State University.

National Association for Sport and Physical Education. Active Start: A Statement of Physical Activity Guidelines for Children Birth to Five Years.  diunduh dari http://pediatrics.aappublications.org/