Aku Tidak Sayang Adik

Aku Tidak Sayang Adik

Tema tentang sibling rivalry ternyata dari dulu sampai sekarang tetap hangat. Orang-orang di sekitar gue juga kebetulan banyak yang baru melahirkan anak kedua, jadi curhatan tentang ini lumayan panas di grup ibu-ibu :))

Sebelum membahas tentang konflik kakak-adik, yang perlu diketahui pertama-tama adalah tentang perasaan anak. Yang anak ketahui adalah “ayah dan ibu adalah miliknya. dan dia adalah orang yang penting untuk keluarganya”. Perasaan inilah yang dapat memicu konflik ketika si adik lahir.

Pada umumnya, sibling rivalry terjadi karena 3 faktor:

  1. Jenis kelamin yang sama antara kakak-adik
  2. Perbedaan usia adik dan kakak : 0-3 tahun–> Uniknya, sibling rivalry biasanya muncul pada  anak usia 3-5 tahun, dan muncul kembali pada saat anak berusia 8-12 tahun. Kalau berbicara tentang teori perkembangan, anak pada usia 8-12 tahun sedang mengembangkan perasaan kompeten. Kemampuan ia melakukan sesuatu dianggap penting. Berhubung anak banyak menghabiskan waktu di sekolah, biasanya kompetensi akademis yang jadi pemicu. Misalnya si kakak/adik terlihat lebih berprestasi, lebih sering dipuji orang tua, lebih bisa ini itu, dll.
  3. Pola asuh orang tua yang otoriter –>Orang tua yang suka menetapkan aturan tanpa mempertimbangkan pendapat anak, biasanya akan memicu sibling rivalry. Misalnya penetapan aturan yang tidak berimbang pada kakak dan adik. Kalau dari hasil sharing saya kemarin dengan ibu-ibu di SBM, aturan yang tidak berimbang misalnya si Kakak boleh main keluar sampai sore, tapi kalau adik tidak boleh (atau sebaliknya) .

Dikutip dari webmd.com, ada juga hal-hal yang berpotensi memancing timbulnya sibling rivalry:

  1. Perhatian : Sebesar apa pun usianya, anak memang sangat senang dengan perhatian orang tua. Berat bagi anak untuk memahami bahwa ia bukanlah pusat perhatian ayah ibunya lagi.
  2. Berbagi : Faktor ini adalah pemicu paling besar sibling rivalry pada anak usia dini. Jika dilihat dari perkembangannya pun, memang anak usia dini ada kecenderungan egosentris yang artinya ia lebih mengutamakan pandangan dan kepentingannya pribadi. Tapiii bukan berarti anak usia dini gak bisa diajarin empati lho. Gue pribadi, kalo Zara gak mau berbagi mainan dengan sepupu-sepupunya gue biarin. Gue ajak ngobrol ” Zara  ga mau minjemin, kenapa?” kalau dia udah ungkapin alasannya ya sudah.. Tapi setelah itu gue ceritakan senangnya kalau bisa berbagi. Gue ingetin momen dia dipinjamin mainan ama orang lain. Gue pengen Zara bisa jadi orang yang tetap mempertahankan hak nya, tanpa lupa dengan hak orang lain… Begitu pula kalau Zara minjem maksa mainan ke sepupu-sepupunya akan gue tegur. “Kalo X belum mau minjemin jangan maksa ya”. Begitu kira-kira.
  3. Kepribadian : Perbedaan kepribadian antar anak bisa saja memicu sibling rivalry.  Makanya walaupun sama-sama anak sendiri, pendekatannya bisa berbeda-beda. Kenali karakter anak ya…
  4. Ketidakadilan :Nah faktor ini pemicu paling besar pada anak usia sekolah. Ketidakadilan sangat terkait dengan aturan orang tua seperti yang dibahas di atas. si X boleh ini, Y tidak boleh. Perlakuan/aturan yang tidak konsisten dari orang tua terhadap suatu situasi yang dialami adik/kakak memang sering terjadi. Misalnya kalau Kakak pulangnya telat tidak dimarahi, kalau adik dimarahi. Kalau adik nilai ulangannnya jelek tidak dimarahi, kalau kakak dimarahi, dsb.

Sebagai orang tua, juga jangan memandang remeh masalah ini. Sibling rivalry bisa menyebabkan Agresi pada saudara, misalnya memukul, mencubit, dll. Selain menyakiti saudara, ternyata sibling rivalry bisa berdampak ke diri sendiri, yaitu Regresi dan Percaya Diri. Regresi adalah tingkah laku anak mundur ke tahapan sebelumnya, misalnya anak mulai ngompol lagi, yang tadinya sudah mandiri tiba-tiba semua harus dibantu orang tua, dll. Anak juga bisa menjadi tidak percaya diri, jika permasalahan antar saudara ini terus berlangsung. Apalagi jika sering dibanding-bandingkan dengan saudaranya.

Jadi, apa yang harus dilakukan orang tua untuk meminimalisir sibling rivalry?

  1. Libatkan anak sejak masa kehamilan. Misalnya meminta si Kakak bacain cerita buat adik di perut. Kalau adik menendang bisa bilang “wah adik menyapa kakak” dll..
  2. Biasakan bertanya pada anak tentang perasaannya. Jangan menebak-nebak penyebab kemarahan anak. Tanya baik-baik mengapa ia menangis, mengapa ia marah.
  3. Hindari metode time out. Metode time out adalah metode yang meminta anak untuk menjauhkan diri sementara waktu setelah ia berbuat salah. “Sana masuk kamar! Sana duduk di pojokan!” adalah contoh metode ini. Sayangnya, metode pendisiplinan ini membuat anak merasa terkucilkan. Apalagi kalau ia dihukum karena berkelahi dengan saudaranya. Anak yang satu di timang-timang di diemin, yang satu disuruh mojok sendirian. Kan sediih 😦
  4. jangan menyalahkan anak. Misalnya bilang “Kakak kan udah gede masa gitu aja ga mau ngalah ama adek”. Bukan berarti semua tindakan anak dibenarkan ya. Tapi balik lagi ke poin nomor 2. Coba bertanya dulu apa yang terjadi dari sudut pandang si anak.
  5. Jangan pernah membandingkan.  “Liat tuh Kakak pinter.. adek mah nakal” “Liat tuh adek aja mau ngalah, Kakak mah pelit” . Duhhhhhhhhhh gue kalo denger yang beginian suka pengen ngasih cabe rawit ke yang ngomong :))).  Mulutmu Harimau mu. Words can be so hurtful, people……

Semangat terus ya Papa-papa Mama-Mama.. Kalau konflik antar saudara ini bisa diatasi dengan baik, kita akan punya tim inti yang soild 😉

*materi pernah dibawakan pada sesi sharing dengan orang tua Sekolah Bermain Matahari.

Referensi:

Hanum, A.L, & Hidayat, A.A. (2015) FAKTOR DOMINAN PADA KEJADIAN SIBLING RIVALRY PADA ANAK USIA PRASEKOLAH. Diunduh dari http://fik.um surabaya.ac.id/sites/default/files/Artikel%203_1.pdf

http://www.webmd.com/parenting/sibling-rivalry#1

https://www.psychologytoday.com/articles/199301/adult-sibling-rivalry

gambar-gambar diambil dari google.

Advertisements
mengASIhi bersama

mengASIhi bersama

Air Susu Ibu bisa bunuh sel tumor ; ini penjelasannya

Memberi ASI praktiknya memang dilakukan oleh ibu-ibu, tapi ternyata kesuksesan program menyusui sangat dipengaruhi oleh Ayah lho. Dukungan menyusui dari keluarga dan teman ternyata bisa jauh lebih mempengaruhi bagi Ibu dibandingkan dukungan dari tenaga medis profesional. (Dennis, 2002; McInnes, & Chambers, 2008). Penelitian menunjukkan bahwa dua tokoh utama yang paling berpengaruh dukungannya bagi Ibu adalah sang Nenek dan Suami (Arora, McJunkin, Wehrer, & Kuhn, 2000, Mahoney & James, 2000; Pollock, Bustamante-Forest, & Giarratano, 2002).

Duhhhh ini peran Nenek dalam menyusui tuh ternyata scientific ya haha.. Cung lah siapa disini yang jadi menciut pas menyusui karena komen Nenek alias Ibu sendiri atau Ibu mertua? Hehehe…  Nah disini penting sekali peran suami, untuk menguatkan dan meyakinkan para nenek, kalau si Ibu mampu memberi ASI dan ASI nya cukup. Menyusui pun butuh kepercayaan diri lho. Kingston, Dennis, dan Sword (2007) menemukan bahwa wanita yang mendapatkan pujian dari suaminya akan lebih PD untuk menyusui. Li, Zhang, Scott, dan Binns (2004) juga menemukan bahwa suami pilihan suami agar istri menyusui merupakan faktor penting bagi istri untuk mau menyusui bayinya. Jadi antara suami dan istri harus kompak satu misi yaitu: Memberi ASI.

Menurut Sheriff, Panton & Hall (2014) terdapat 5 bentuk dukungan yang bisa diberikan oleh Para Ayah dalam hal menyusui.

  1. Pengetahuan tentang menyusui: Beberapa hal penting yang perlu diketahui oleh Ayah adalah tentang keunggulan ASI, proses pemberian ASI, dan juga pengaturan/ manajemen ASI (atau ASIP). Hal ini cukup lengkap dibahas di website Ayah ASI https://www.ayahasi.org/. Kalau Ayah dan Ibu sama-sama paham pentingnya ASI,  hambatan dan tantangan dalam proses menyusui bisa dilawan bareng-bareng deh!
  2. Sikap positif: Sikap positif tentang menyusui adalah faktor penentu apakah Ibu akan mulai memberi Asi, melanjutkan memberi ASI, dan seberapa lama Ibu akan menyusui (Wilkins et al, 2012). Dari penelitian yang dilakukan oleh Morrison dkk (2008) menemukan bahwa opini/pendapat pasangan lebih mempengaruhi keputusan Ibu untuk menyusui dibandingkan pengetahuan tentang keuntungan dari ASI itu sendiri. Jadi sebenarnya ibu-ibu juga tau manfaat ASI, tapi kalau sikap suami kurang mendukung, keputusan tidak memberi ASI bisa terjadi.
  3. Terlibat dalam pengambilan keputusan: Disebutkan kalau para Ayah biasanya ga terlalu “ngeh” kalo ternyata keputusan menyusui itu dari Ayah juga. Banyak Ayah yang merasa bahwa peran menyusui itu ya murni keputusan Ibu, karena yang akan menjalani adalah ibu. Padahal, dukungan dari para Ayah sangat penting bagi Ibu untuk memutuskan akan menyusui atau tidak. Pada beberapa kasus misalnya, ketika ada indikasi Ibu tidak bisa menyusui, maka peran Ayah adalah mencari opini dari tenaga kesehatan lain tentang kasus yang terjadi. Pada akhirnya, dari berbagai opini yang diperoleh, keputusannya ada di tangan Ayah dan Ibu.
  4. Dukungan praktis: Dukungan praktis bisa macam-macam bentuknya. Intinya adalah dukungan yang bisa memenuhi kebutuhan ibu. Misalnya Ayah mengambil waktu cuti untuk menemani masa awal menyusui, atau beliin makanan enak (my favorite part! hohoho ) atau menggantikan menimang anak.
  5. Dukungan emosional: Perhatian dan semangat adalah bentuk dukungan emosional dari Ayah selama proses menyusui. Avery dan Magnus (2011) bahwa kunci kesuksesan menyusui adalah empati dari si Ayah.

Misi untuk memberi ASI atau tidak sebaiknya dipelajari dan disepakati sejak masa kehamilan ya… Dengan adanya misi bersama, akan cenderung lebih mudah dalam menghadapi berbagai tantangan yang mungkin terjadi selama proses menyusui. Selamat bekerja sama Mama Papa 🙂

 

 

Referensi:

Mitchelle-Box, K.M. (2011). Breastfeeding and the male Partner: Associaation between Male Attitudes and Breastfeeding Outcomes.  diunduh dari:  www.proquest.com

Nigel, S., Panton, C., Hall, V.  (2014). A New Model of Father Support to Promote Breastfeeding. University of Brighton. Diunduh dari http://www.proquest.com

 

Belajar Puasa Yuk!

Belajar Puasa Yuk!

Kali ini, Bumimi mau membahas puasa dari segi psikologi. Kenapa kira-kira penting bagi anak untuk belajar puasa. Sebenarnya, konsep puasa cukup erat kaitannya dengan konsep psikologi yang dikenal sebagai Delayed Gratification. Delayed gratification adalah kemampuan menahan diri untuk mendapatkan imbalan/kepuasan, demi mendapatkan imbalan/kepuasan yang lebih besar nantinya.

Di tahun 1960an, seorang pakar psikologi, Walter Mischel, melakukan sebuah eksperimen yang dikenal dengan The Marshmallow Test. Pesertanya adalah anak-anak yang berusia 4-5 tahun. Eksperimen ini terbilang sederhana.  Seorang anak dibawa masuk ke dalam ruangan. Dia disuruh duduk di depan meja, di mana terdapat sebuah marshmallow. Si anak tidak boleh mengambil  marshmallow tersebut selama 15 menit. Kalau berhasil, dia akan mendapat hadiah satu marshmallow lagi. Kalau gagal, si anak hanya akan mendapat satu marshmallow itu. Setelah penguji keluar ruangan, dari sekian banyak anak, hanya sedikit sekali anak yang berhasil menahan diri.  Hasil penelitian ini menunjukkan, semakin lama anak dapat menunggu, semakin baik pengendalian diri yang ia miliki. Mischele kemudian mengunjungi kembali anak-anak tersebut saat mereka menginjak usia remaja. Anak-anak yang mampu menunggu. pada umumnya memiliki prestasi akademis yang baik, mampu membuat perencanaan, mengatasi stress, mengendalikan diri saat mengalami kesulitan, dan memiliki fokus yang lebih baik. Menariknya lagi, kemudian Mischel kembali mengunjungi mereka di usia kurang lebih 40 tahun. Anak-anak yang kurang berhasil pada marshmallow test, juga menampilkan performa yang kurang baik dalam tugas-tugas pengendalian diri bagi orang dewasa. Penelitian ini masih terus dieksplorasi oleh para peneliti lain, dan banyak hasil serupa yang diperoleh.

Lalu apa kaitannya puasa dengan delayed gratification?

Konsepnya mirip. Dari segi bahasa, puasa adalah menahan diri. Apa imbalannya? Imbalannya adalah pahala. Nah konsep pahala, pada dasarnya masih abstrak bagi anak-anak, terutama anak di bawah 6 tahun. Pada Marshmallow test, marshmallow kedua yang dijanjikan dapat terlihat oleh anak. Sehingga yang harus mereka lakukan adalah mencari cara  untuk mengalihkan perhatian dari marshmallow pertama, agar mendapatkan kesenangan yang lebih besar nantinya (dalam hal ini adalah marshmallow tambahan). Jadi, bagi orang tua yang ingin mulai mengajari anak-anak puasa, ada baiknya menyediakan “reward” yang terlihat bagi anak. Karena pada dasarnya anak-anak usia dini memang memiliki pola pikir yang konkrit. Banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya dengan memberlakukan prinsip token ekonomi. Berikan anak tanda untuk puasa yang ia lakukan, lalu setelah waktu tertentu, anak dapat mendapatkan bingkisan. Bisa juga dengan memberikan pujian secara langsung atas usaha yang sudah ia tunjukkan. Oh iya, untuk jenis rewardnya sendiri, bisa bermacam-macam ya. Tidak semua anak senang dengan pujian, atau hadiah tertentu. Jadi silahkan sesuaikan dengan anak masing-masing…

Gue pribadi, ingin mulai memperkenalkan konsep puasa ke anak gue yang sekarang usianya 4,5 tahun. Yang ingin gue perkenalkan sebenarnya lebih ke konsep menahan diri, dan cinta pada Allah. Untuk anak-anak usia dini, ga perlu dipaksakan keukeh harus sampai jam tertentu, tapi juga jangan lantas langsung menuruti keinginan anak untuk berbuka puasa. *Lah jadi apa maunya to mi? :))

Begini, sebagai orang tua, penting untuk punya keterampilan negosiasi. Kalau anak masih terlihat fit tapi minta untuk berbuka, coba berikan ia sedikit tantangan misalnya dengan meminta ia menunggu selama beberapa waktu lagi. Orang tua juga perlu pro aktif mengajak anak melakukan kegiatan-kegaitan menyenangkan yang dapat mendistraksi anak dari pikiran pengen buka.  Pada Marshmallow test pun, anak-anak yang berhasil tersebut, melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat membuat mereka tidak melulu melihat marshmallow yang ada di depan mata.

Pas lagi belajar puasa kemarin, Zara dan sepupunya, Toshi, sahur jam 5 subuh. Terus kita bikin kesepakatan untuk berbuka puasa jam 12. Jam 11 kurang 15, dua bocah ini turun tangga sambil gendong beng beng sebakul. “untiiii laparrrrrrr”, gitu katanya. Gue mau ngakak karena liat mereka tergopoh gopoh bawa beng beng, muka memelas. Gue ingatkan tentang kesepakatan awal. Mereka bilang udah ga kuat lagi. Akhirnya gue bikin kesepakatan baru, minta mereka tahan 15 menit lagi aja. Mereka sepakat. Sambil nunggu, mereka baca Iqro. Eh makin lapar karena mikir :))) Tapi alhamdulillah bisa tahan untuk buka jam 11 teng. Gue ga marahin krucils walaupun puasanya batal jam 11. Ingat, kewajiban puasa itu ketika sudah Baligh lho ya.. Gue pribadi pengen ngajarin “cinta” nya dulu, baru kewajiban dalam beragama.

Ohya, berhubung gue juga mau mengasah motivasi internalnya Zara, maka gue merasa token ekonomi lebih tepat karena hadiahnya ga instan. Lalu tiap gue kasih dia bintang atau bingkisan untuk kegiatan ibadah yang dia lakukan, gue selalu berusaha menyampaikan bahwa apa yang Allah berikan ke dia jauh lebih besar dari apa yang gue berikan. Di situlah konsep pahala dan rezeki serta cinta dari Allah gue coba sampaikan ke bocil.

Satu hal lagi mengenai konsep delayed gratification. Mishcel mengajukan istilah  “hot-and-cool” system, untuk menjelaskan mengapa ada tekad yang berhasil dan gagal. Cool system adalah sistem berpikir, yang terkait dengan pengetahuan, perasaan, aksi dan tujuan. Sedangkan hot system bertanggungjawab untuk respon-respon cepat atau refleks terhadap pemicu tertentu. Pada orang-orang tertentu, saat berhadapan dengan pemicu yang menggoda “hot system” nya, ia tidak mudah terpengaruh dan tetap mengedepankan “cool system”nya.  Artinya, mikir dulu sebelum bertindak alias gak impulsif.  Contoh gampang buat ibu-ibu. Tekadnya adalah diet. Tapi begitu ada indomi depan mata, refleks disendokin ke mulut :)) *lu aja itu sih mi* Nah, itulah saat hot system menguasai kita. Salah satu cara agar tidak mudah terpengaruh adalah dengan cara membayangkan hal menyenangkan lain yang dapat kita capai jika kita menunda kesenangan itu. Misalnya ketika ada yang bikin indomi, alih-alih ikutan bikin, kita bayangkan timbangan yang bergerak semakin ke kiri. Atau bisa juga dengan melakukan kegiatan lain yang dapat mengalihkan perhatian kita ke wangi indomi. Sama halnya dengan melatih anak berpuasa. Ajak ia berkegiatan, atau bercerita tentang makna besar di balik kegiatan puasa, agar ia tidak terus memikirkan tentang waktu buka puasa. Begitu kura kura.

PS: Postingan ini tidak disponsori oleh produk mi instan manapun. Cuma lagi kebayang-bayang nikmatnya makan mi malem malem begini.

Referensi:

https://www.apa.org/helpcenter/willpower-gratification.pdf

https://www.psychologytoday.com/blog/happiness-in-world/201207/the-power-delaying-gratification

Maksimalkan Potensi Anak, Yuk!

Maksimalkan Potensi Anak, Yuk!

Ini adalah salah satu teori favorit saya. Teori tua tapi tidak usang..

Cheers to Vygotsky and his Zone of Proximal Development (ZPD).

ZPD adalah jenis tugas yang terlalu sulit untuk dipelajari sendiri oleh anak, namun dapat dipelajari dengan bimbingan dan bantuan dari orang yang lebih dewasa atau anak dengan kemampuan yang lebih baik. ZPD menggambarkan bahwa kemampuan kognitif anak masih dalam proses perkembangan yang dapat dicapai dengan bantuan dari orang yang memiliki kemampuan lebih baik dari anak (Santrock, 2011).

Kalau digambarkan lebih mudahnya seperti ini:

 

 

 

Idea note_20140724_235939_01

 

Titik 0 adalah kemampuan anak saat ini. Memiliki jarak tertentu dari ZPD. Jadi sebenarnya kemampuan anak bisa lebih baik dari saat ini, sayang kadang anak tidak menyadari hal itu. Ketika terpaku di satu hambatan, anak dapat berhenti mencoba lebih jauh karena merasa dirinya tidak mampu. ketidak mampuan ini biasanya membuat anak kehilangan semangat, kesal sendiri, atau menolak melanjutkan pengerjaan tugas. Sebenarnya jarak antara titik 0 dan ZPD ini bisa diatasi dengan adanya scaffolding. Apa itu?

Vygotsky mendefinisikan scaffolding sebagai peran guru dan orang lain dalam mendukung perkembangan siswa, serta memberikan dukungan terstruktur agar siswa dapat mencapai tingkat kemampuan belajar yang lebih tinggi. Terdapat berbagai cara dalam scaffolding, seperti mencacah tugas besar ke tugas-tugas kecil, memberikan motivasi, dan memberikan umpan balik pada siswa.

Sebagai contoh, anak saya waktu masih 1,5 tahun, sedang senang mencoba memakai dan melepas baju sendiri. Suatu ketika dia mencoba untuk membuka baju, namun kesulitan di bagian kepala. Dia marah dan merengek. Saya menyemangati dia dengan berkata “Ayoo dicoba dulu.. bisa..bisa.. sedikit lagi..” Dan akhirnya, dia berhasil membuka baju sendiri. Pada kesempatan lain, dia sedang memakai mukena, dan ingin melepaskan mukenanya. Alih-alih dilepas, mukena malah menjadi jubah karena ia menarik ke dalam ke arah leher, bukan keluar untuk melepaskan mukena. Akhirnya hambatan yang ia hadapi bertambah. Dia mulai terlihat marah, namun tetap berusaha. Saya hanya memperhatikan dari jauh, dan tidak disangka saya mendengar dia berkata “bisa..bisa..” sambil mencoba melepaskan mukenanya. Dan berhasil 😀

Contoh scaffolding dengan memberi bantuan berupa langkah demi langkah misalnya seperti ini. Kalau saat ini, anak saya (4th) lagi senang-senangnya belajar huruf. Walaupun keterampilan motorik halusnya “aduhai”, tapi dia senang menulism terutama menulis nama anggota keluarga. Untuk bisa menulis,yang awalnya saya beri bantuan dengan memberikan titik-titik untuk membentuk pola. Kalau sudah semakin oke membentuk pola, saya berikan contoh hurufnya dan dia diminta menulis sendiri. Pada akhirnya sampai ia bisa menulis tanpa diberikan contoh. (For the record, tulisannya masih acakadut banget kok. Gapapa, asal anaknya seneng dan mau usaha dulu kalo masih umur segini).

Contoh lain juga terjadi saat saya berhadapan dengan salah seorang klien yang mengalami kesulitan dalam memahami bacaan. Saat saya memintanya untuk menceritakan kembali, ia langsung berkata “tidak bisa..” setelah diberi dorongan, ia akhirnya mau mencoba. namun ketika ia mengalami kesulitan mengingat cerita, ia akan kembali mengatakan “gak tau..”. kemudian saya berkata “ayo.. bisa kok.. pelan-pelan aja.. tadi tokohnya kenapa?” Jadi pertanyaan-pertanyaan itu, diharapkan dapat memancing anak berusaha. Alih-alih memberi bantuan langsung, kita bisa memberi petunjuk-petunjuk agar anak berusaha mengeluarkan usaha terbaiknya.  Akhirnya klien saya berhasil menceritakan kembali walaupun jawabannya belum sempurna.

Itu adalah contoh nyata yang saya alami terkait ZPD dan scaffolding. Penerapannya bisa bermacam-macam dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar. Sekarang tinggal giliran kita, sebagai orang dewasa, ingin mengambil andil scaffolding dalam bentuk apa untuk membantu anak mencapai ZPD nya.

Semoga bermanfaat 🙂

(Tidak) Bahagia Menjadi Orang tua

(Tidak) Bahagia Menjadi Orang tua

 

Ada yang pernah merasakan hal ini? Capeeeeeek banget menghadapi anak. Bukannya gak cinta, tapi kadang benar-benar ingin ada jeda dari semua kegiatan terkait anak. Tapi tidak jarang rasa lelah ini dibarengi rasa bersalah. “Kok bisa sih saya mikir kaya gini udah syukur diberi rezeki? “Kok bisa sih saya tega ama anak sendiri?” , “Kok saya ga punya hati sih?” Akhirnya semua perasaan negatif ini menjadi satu, dan kalo makin lama dipendam sendiri, semakin beresiko kita terjebak di perasaan tidak bahagia.

Untuk postingan kali ini, gue akan membahas 1 jurnal yang mengupas tuntas tentang Parent’s Wellbeing, alias kesejahteraan orang tua.

Apa yang membuat orang tua kurang bahagia?

  1. Emosi negatif

Walaupun banyak emosi positif yang diperoleh ketika menjadi orang tua, tapi anak juga bisa menjadi sumber emosi negatif orang tua. Frustrasi yang dirasakan orang tuabiasanya berupa: tantangan mengasuh balita, kemalasan anak usia sekolah, dan kekhawatiran melihat emosi remaja. Selain itu, emosi negatif ini juga berupa kekhawatiran orang tua terhadap anak, seperti kesehatan dan keamanan anak.

  1. Gangguan tidur dan kelelahan

Banyak orang tua merasakan hal ini. Walau hal ini terkesan “biasa” untuk orang tua, namun ternyata kelelahan dan gangguantidur bisa berdampak ke berbagai hal. Kurang tidur bisa meningkatkan kemarahan dan perasaan kurang bersahabat. Selain itu, kurang tidur juga bisa berdampak ke kurangnya fleksibilitas berpikir, fokus, regulasi emosi dan penyelesaian masalah.

  1. Kepuasan terhadap pasangan

Beberapa penelitian menemukan bahwa kepuasan terhadap pernikahan menurun setelah memiliki anak. Hal ini bisa terjadi kalau pasangan tidak saling mendukung, dan kurangnya quality time alias waktu pacaran dengan pasangan. Belum lagi masalah perbedaan pendapat dalam pengasuhan yang dapat berdampak pada ketidakpuasan terhadap pasangan.

Selain faktor-faktor di atas, faktor usia anak dan peran gender ternyata berpengaruh juga lho terhadap kesejahteraan orang tua.

Ternyata, masa paling sutris dalam menjadi orang tua adalah……..

Saat anak berusia 0-7 tahun! *3 tahun lagi mimi, bertahanlah :)).

Pada masa ini, orang tua lebih banyak terlibat dalam pekerjaan rumah tangga (nyapu ngepel, kotor lagi, nyapu ngepel, kotor lagi on repeat). Selain itu, kepercayaan diri sebagai orang tua juga lebih rendah di masa ini. Mungkin karena masih beradaptasi ya.. Berhubung masih belajar jadi orang tua, dan kadang terlalu banyak saran dari berbagai pihak  yang membuat kita jadi sering berpikir kalo kita tidak cukup baik untuk anak-anak. *lalu baper….

Lalu, ayah VS ibu, kira-kira siapa yang lebih sutris?

Tidak diragukan lagi, jawabannya adalah Ibu-Ibu :))

Waktu ayah dan anak lebih banyak berupa aktivitas menyenangkan seperti bermain dan bersantai bersama. Sedangkan waktu ibu dan anak mencakup berbagai aktivitas, yang akhirnya membuat perasaan ibu juga cenderung lebih nano nano dibandingkan ayah.

Terus, bagaimana caranya agar lebih bahagia menjadi orang tua? Ada 10 strategi yang gue kutip dari http://www.parentingscience.com. Monggo dipilih…

  1. Kurangi melihat/membaca/mendengar berita negatif

Penelitian menunjukkan, setelah mendapatkan paparan informasi negatif, orang-orang akan cenderung lebih fokus pada  informasi senada seperti gambar-gambar tidak menyenangkan, kata-kata kasar, umpan balik yang tidak menyenangkan, dsb. Jadi memang untuk bisa menjadi lebih bahagia, kurangilah akses untuk hal-hal negatif seperti follow instagram ghosip (if u know what i mean :p), nyinyirin pasangan calon di pilkada (eh), atau media-media yang bisa membuat kita merasa kesal.

  1. Perbanyak berita positf

Kalau berita negatif terkait dengan respon stress, begitu pula sebaliknya berita positif terkait dengan kebahagiaan. Fokus pada tindakan-tindakan kebaikan, bahkan hanya dengan melihat gambar-gambar orang yang berbuat baik, bisa mematikan respon stress di otak. Jadi ingat, pernah baca kalau ketika seseorang membantu orang lain, sebenarnya yang bahagia bukan cuma orang yang dibantu, tapi juga orang yang membantu. Stay positive, parents!

  1. Antisipasi

Penelitian menunjukkan bahwa banyak orang kurang mampu mengantisipasi kemungkinan ketidaknyamanan yang dapat terjadi. Jadi sebelum bertindak coba pikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika kita melakukan hal tersebut. Misalnya, “Kira-kira mainan ini nanti bikin si kakak dan adik berantem gak ya?” Kalo iya, jangan dibawa.

  1. Jangan terburu-buru

Adanya tekanan waktu merupakan salah satu penyebab orang tua stress. Mulailah lebih awal dalam menjalani keseharian. “Tapi saya sudah mulai lebih awal. Saya bangun jam 4 pagi untuk mengerjakan semua hal dan sampai malam masih ga selesai juga”. Hmm kalo ada rejekinya, mungkin bisa minta bantuan orang lain untuk bantu beberapa pekerjaan rumah. “Tapi saya sering ga sreg dengan kerjaan orang lain, saya lebih senang menyelesaikan sendiri”. Hmm kalo sudah begini, mungkin yang bisa gue sarankan adalah dengan menurunkan ekspektasi. Cobalah bertoleransi dengan beberapa hal. Tidak semuanya harus sempurna kok 😉

  1. Ketika ada hal buruk terjadi, lihat dari sudut pandang yang berbeda

Penelitian menunjukkan, manusia bisa mengendalikan rasa stress lebih baik saat mereka menyadari adanya sudut pandang lain dari situasi tersebut. Berterimakasih dan empatilah kepada diri sendiri, karena sudah berhasil melalui situasi yang tidak menyenangkan tersebut. Tapi bagaimana kalau  kita merasa situasi tersebut tidak ada hikmahnya? Jangan tutupi perasaan itu, dan belajarlah untuk menerima bahwa hal tidak menyenangkan memang bagian dari kehidupan. Susah pasti ya, tapi bukan tidak mungkin.. Jangan gengsi untuk bercerita dengan orang yang terpercaya, atau jangan malu untuk menemui psikolog jika memang merasa membutuhkan bantuan.

  1. Kurangi Simpati

Ketika anak mengalami ketidaknyamanan, tidak jarang orang tua, terutama ibu ikut merasakan ketidaknyamanan ini. Perasaan ini ternyata justru berpotensi untuk menambah tekanan bagi orang tua. Jadi alih-alih bersimpati, cobalah berempati. Empati yang dimaksud adalah memikirkan pikiran perasaan orang lain, dan membayangkan hal yang dapat membuat orang tersebut lebih baik. Jadi ketika anak sedih, marah, kecewa, jangan ikut bersedih ya…

    7.Time Out.

Kadang, menyerah untuk mengontrol semua hal sesuai dengan keinginan kita dapat membantu mengatasi stress. Penelitian menunjukkan bahwa manusia beradaptasi lebih baik ketika mereka berhenti menghitung sisa waktu, mengkhawatirkan hari esok,atau berpikir seberapa capek mereka. Dengan “menyerah”, akan memudahkan kita untuk beristirahat lebih tenang.

  1. Bantu anak untuk meregulasi emosi

Regulasi atau pengaturan emosi itu dipelajari, bukan alami “dari sononya”. Jadi jangan heran kalau sewaktu-waktu melihat anak tantrum. Ajari anak mengenali emosi, membicarakan perasaan anak, dapat membantu anak mengatur emosinya. Yang menarik adalah, ketika orang tua mengajarkan anak untuk mengontrol emosi, ternyata bisa membantu orang tua untuk mengontrol emosi sendiri. Mungkin kaya jadi refleksi ya..

  1. Luangkan waktu untuk inspirasi

Penelitian menunjukkan, kebahagiaan yang bermakna dapat menghalangi stress. Kebahagiaan bermakna itu bukan “hadiah instan” kaya makan coklat, makan makanan enak, beli baju, mandi berendam, dsb. Tapi lebih ke kepuasan dalam mencapai suatu tujuan, memiliki kebermaknaan. Sekarang udah banyak ya sebenarnya komunitas yang bisa memfasilitasi ibu-ibu tetap berkarya. Coba cari tahu komunitas yang sesuai dengan hobi yang kita punya.

  1. Olahraga!

Yap, ternyata olahraga sangat bermanfaat untuk meredakan stress fisik maupun psikologis. Mens sana in corpore sano!

Selain 10 tips di atas, menurut gue meluangkan waktu dari aktivitas “dunia” sebenarnya adalah salah satu cara jitu untuk mengurangi stress. Caranya ya bisa bermacam-macam, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Percaya bahwa ada yang Maha Kuasa di atas semua lika liku kehidupan ini, somehow sering membuat gue merasa lebih tenang dan tidak terbebani.

Semoga bermanfaat ya 😉

Referensi:

Nelson, S.K., Kushlev,K. (2013). The Pains and Pleasures of Parenting: When, Why, and How Is Parenthood Associated With More or Less Well-Being?. American Psychological Association.

http://www.parentingscience.com/parenting-stress-evidence-based-tips.html

PD jadi orang tua!

PD jadi orang tua!

Masa transisi sebagai orang tua dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menekan bagi orang tua baru. Adanya peran baru, perlu untuk belajar keterampilan baru, hubungan yang baru, serta proses evaluasi terhadap peran sebelumnya (Cowan &Cowan,1995). Yang merasa “iya ini gue banget” ngacung! Gue juga merasakan hal yang sama. Seneng sih seneng, tapi ada kalanya (apa sering?:p) kelakuan anak bikin gue sutris. Ketika tidak berhasil mengatasi tantrum misalnya, kadang ada perasaan “gue bukan orang tua yang baik”. Dari hasil sharing pengalaman ataupun curhatan para ibu-ibu senasib pun, gue menyadari bahwa orang tua, terutama ibu-ibu, mudah sekali merasa bersalah. Rasa bersalah ini ujung-ujungnya bisa membuat kita gak PD dan selalu ragu menjadi orang tua.

Pengasuhan (parenting) bukanlah keterampilan bawaan. Kita belajar untuk menjadi orang tua dari orang tua sendiri, media, dan pengalaman pribadi. Pengalaman-pengalaman ini bisa menjadi pengalaman yang positif, negatif, membantu atau malah membingungkan. Jadi apa yang membuat orang tua bersemangat untuk tetap menjalani perannya walaupun kelelahan menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan dalam pengasuhan? Parental Self Efficacy jawabannya. (Grimes 2012)

Parental self efficacy (berikutnya disingkat sebagai PSE) adalah dorongan motivasional yang membuat orang tua tetap gigih menghadapi berbagai kesulitan dalam masa pengasuhan  (Bandura, 1982).  Orang tua yang punya PSE yang baik, percaya bahwa mereka memang pantas dan memiliki kemampuan sebagai orang tua.  Dengan kata lain, PD jadi orang tua ya 😉

Lalu kenapa penting sih  PD jadi orang tua?

“Persepsi orang tua terhadap kemampuannya menjadi orang tua berpengaruh terhadap cara mereka menjadi orang tua  (Coleman and Karraker, 1998).

Penelitian menemukan bahwa tingkah laku orang tua pada lima tahun pertama kehidupan anak berperan penting terhadap perkembangan kognitif dan sosial anak. Interaksi dan pengalaman yang diperoleh anak dari keluarga menghasilkan kerangka berpikir anak. Penelitian di negara berkembang menunjukkan kepercayaan diri sebagai orang tua penting bagi kesehatan jiwa anak. Pola asuh yang positif dan proaktif berhubungan erat dengan kepercayaan diri dan keterampilan sosial anak. Kepercayaan diri sebagai orang tua adalah faktor penting dalam meningkatkan hubungan yang positif antara anak dan orang tua.  Penelitian lain dari Kuhn dan Carter juga menemukan bahwa kepercayaan diri berhubungan erat dengan kesejahteraan mental orang tua.

bagan

Bagan di atas didasari oleh penelitian yang dilakukan oleh Furstenberg (1993) dan teori self efficacy Bandura (1997). Orang tua yang merasa Pede dengan kemampuannya sebagai orang tua, biasanya akan menerapkan suatu strategi pengasuhan. Strategi ini akan mempengaruhi keberhasilan anak. secara akademis maupun psikologis. Di sisi lain, kepercayaan diri juga dapat berpengaruh langsung pada keberhasilan anak. Orang tua yang PD, dapat menjadi panutan bagi anaknya untuk tampil Pede juga. Hubungan antara 3 variabel tersebut ternyata saling mempengaruhi satu sama lain.

  1. Pengasuhan yang efektif akan meningkatkan Kepercayaan Diri orang tua
  2. Orang tua dengan PD yang rendah akan setengah-setengah dalam menerapkan strategi pengasuhan dan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan, sehingga akhirnya merasa dirinya tidak mampu.
  3. Selain itu, keberhasilan anak akan meningkatkan kepercayaan diri orang tua mengenai kemampuan mereka sebagai orang tua.

Namun, orang tua dengan PD yang baik,  memang tidak selalu berhasil dalam mendidik anak. Apa yang terjadi saat orang tua menghadapi kegagalan? Menariknya,  saat menghadapi kegagalan, orang tua dengan kepercayaan diri yang baik tidak akan mengalami rendah diri ataupun berkubang dalam rasa kegagalan itu. Alih-alih menyerah atau meragukan kemampuan diri, mereka menganggap kegagalan adalah kemunduran sementara yang dapat diatasi dengan usaha maksimal. Kegigihan ini akan diamati oleh anak, sehingga anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua yang tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan.

Lalu, bagaimana ya caranya menjadi orang tua yang PD?

Menurut tulisan Kevin D. Arnold di psychologytoday ada beberapa cara untuk Pede jadi orangtua:

  1. Santai!

Ketakutan membuat kita melakukan sesuatu tanpa berpikir matang. Sebelum melakukan sesuatu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengontrol tingkah laku kita sebagai orangtua:

  1. (Tarik napas buang napas)
  2. (Fokus pada kegiatan bernapas yang sedang kita lakukan agar membantu lebih cepat tenang)
  3. latihan relaksasi dan fokus biar lebih mudah dipraktekkan di situasi yang menekan.

Dengan terbiasa relaksasi, akan lebih mudah bagi orang tua menghadapi berbagai tantangan dalam pengasuhan. Biar ga gampang ikut tantrum juga pas anak tantrum hehe..

  1. “Dengarkan” isi pikiran

Belajar mendengarkan isi pikiran, akan memudahkan kita memilah pikiran positif dan negatif. Kalimat-kalimat negatif seperti  “Saya menyerah. Saya ga tau harus gimana lagi!”, “Saya capek” dan berbagai bentuk kalimat serupa biasanya paling cepat terpikirkan oleh orang tua ketika menghadapi tingkah laku anak. Jadi memang sebaiknya orang tua mengambil jeda untuk relaksasi dan memikirkan hal-hal positif sebelum bereaksi terhadap anak.

Contoh mengganti pikiran negatif dengan pikiran positif:

“Anak saya ga pernah mendengarkan saya.” vs. “Anak saya belum paham apa yang saya maksud, jadi saya harus lebih jelas”

“Saya tidak tau bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik.” vs. “Cara ini tidak berhasil. Saya harus mencoba cara lain nanti.”

daan lain sebagainya.

Nah kuncinya untuk berpikir positif adalah dengan terus membiasakan diri berpikir positif, karena otak “terbentuk” dari pengalaman/pembiasaan. Pikiran positif inilah yang nantinya akan membentuk kepercayaan diri kita sebagai orang tua.

Kalo dari gue pribadi, bergabung di grup whatsapp dengan teman-teman yang sama-sama punya anak cukup membantu kalau lagi bingung atau kalo memang sekedar curhat. Dan berhubung gue muslim, jadi kadang wudhu juga sangat bermanfaat untuk menenangkan pikiran.

Kalau ada yang membutuhkan bantuan gue/shanti untuk berdiskusi tentang serba serbi pengasuhan anak, kita insyaAllah bersedia kok. Email aja ya di jurnalmama.id@gmail.co.. Kali aja bisa membantu mengurangi kecemasan yang ada…..*tsah

Referensi:

  Abarashi, Z., Tahmassian, K., Mazaheri, M.A. (2013). Parental Self-Efficacy As a Determining Factor in Healthy Mother-Child Interaction: A Pilot Study in Iran.

     Ardelt, M. (2001). Effects of Mothers’ Parental Efficacy Beliefs and Promotive Parenting
Strategies on Inner-City Youth.
Grimes, L. (2012). The role of parental self efficacy and parental knowledge in parent-infant interactions during transition to parenthood.

Gambar diunduh dari https://www.littlebigcrafter.com

Mari belajar “menulis”

Mari belajar “menulis”

 

 

Salah satu “momok” pengasuhan orang tua adalah menulis. Menurut orang-orang yang udah ngajarin anaknya nulis, “Gemes-gemes” lucu gitu deh ya prosesnya :)) Sebelum mengajarkan menulis, sebaiknya jauuuh sebelum itu anak dibekali dengan keterampilan pra menulis. Mari-mari dikupas tuntas tentang keterampilan pra menulis pada anak usia dini.

Berikut adalah milestone perkembangan menulis pada anak:

Tahap 1: Corat coret Acak(random scribblings) (15 bulan – 2,5 tahun)

Pada tahapan ini, anak baru menyadari kalau gerakan yang mereka lakukan menghasilkan garis dan coretan di kertas. Biasanya coretan ini berupa coretan besar, dan anak memegang krayon/pensil dengan cara menggenggam. Pada tahapan ini, kesenangan yang dirasakan oleh anak berupa merasakan krayon di tangan, wangi cat, atau kekenyalan playdough.  Pada masa ini, memang tahapan berpikir anak adalah sensorimotor, yang artinya mereka belajar dari hal-hal yang dirasakan oleh panca indera. Tidak semua anak bisa enjoy dengan kegiatan penginderaan (sensory play) seperti misalnya melukis dengan jari (finger painting). Tidak usah khawatir, nanti ketika anak sudah mulai terbiasa dengan penginderaannya, bisa mulai diperkenalkan lagi aktivitas-aktivitas sensory play.

Tahap 2: Coretan terkontrol (controlled scribblings) (2-3 tahun)

Seiring dengan perkembangan fisik anak, coretan mereka pun mulai lebih terkontrol. Mulai membuat coretan berbentuk garis ataupun lingkaran. Semakin lama, cara anak memegang pensil/krayon pun mulai dapat diarahkan dengan meletakkan pensil antara jempol dan jari telunjuk.

Tahap 3: Garis dan Pola (2,5 tahun –  3½ tahun)

Pada tahapan ini, anak paham bahwa menulis terdiri dari garis, lengkung, dan pola-pola berulang. Mereka akan mencoba meniru pola ini. Walaupun belum berbentuk huruf, tapi sudah terdiri dari garis, titik, dan lengkung. Kadang mereka akan memberi tahu apa yang mereka tuliskan.

Tahap 4: Pictures of Objects or People (3-5 tahun)

Pada awalnya, anak memang akan senang memberi judul pada “gambar” yang mereka buat. Zara banget nih, kadang bikin bulet-bulet garis apalah, dia bilang ini gambar ikan, atau rumah atau karangan bebas lainnya :)) Lama kelamaan, gambar ini akan lebih terencana. Biasanya anak akan memulai dari gambar lingkaran, makanya objek yang paling umum digambar seperti matahari, bulan, orang. Ketika gambar anak lebih “bertujuan”, anak mulai dapat membedakan gambar dan tulisan. Kadang orang tua akan melihat di bawah gambar yang dibuat ada “tulisan” judul gambarnya. Jangan lupa selalu ajak anak menceritakan apa yang digambar ya.

Tahap 5: Letter and Word Practice (3-5 years)

Pengalaman anak tentang huruf akan semakin berkembang, dan biasanya anak mulai belajar menulis nama. Kadang mereka juga menulis huruf-huruf yang mirip dengan huruf yang pernah dilihat. Pada tahap ini, yang penting bukan benar salahnya. tapi pemahaman anak bahwa tulisan atau coretan yang mereka buat memiliki makna.

 

Perkembangan anak memang sangat bervariasi. Makanya milestone menulis ini pun tidak begitu terpaku pada usia anak. Tapi kalo di kasus gue, memang terlihat perbedaan usia dan perbedaan kemampuan “menulis”. Contohnya di gambar di bawah ini, gambar yang lebih rapi adalah gambar ponakan gue yang berusia 5.5 tahun. Gambar berikutnya adalah gambar anak gue yang berusia 4 tahun.

img_20170109_100721

Segitiga dan Segi Empat Toshi Vs Zara

img_20170109_100732

Tapi gue juga pernah liat anak-anak seumuran Zara yang keterampilan motorik halusnya udah level cadas. Itu rejeki masing-masing ya Bapak Ibu :))

 

Nah, sebenarnya, ada beberapa hal yang perlu dimiliki oleh anak sebelum mereka diajarkan menulis. Anak-anak harus:

  • Menunjukkan keinginan menulis atau menggambar. Dimulai dari ketertarikan mereka terhadap warna dasar dan bentuk dasar (segitiga, lingkaran, segi empat). Nah penting nih. Kalo anaknya memang belum suka-suka banget, ga usah dipaksa. Tapi juga jangan menyerah untuk coba. Jadi misalnya tetap ada kegiatan pra menulis setiap hari, dengan rentang waktu yang singkat misalnya Cuma 5-10 menit.
  • Memiliki keseimbangan tubuh yang baik dan dapat duduk di kursi. Hal ini sangat terkait dengan kekuatan tubuh bagian atas. Aktivitas-aktivitas memanjat dapat bermanfaat untuk menguatkan bagian ini.
  • Dapat menggerakkan pensil dari berbagai tempat di kertas, dan tangan lainnya untuk menahan kertas.
  • Dapat berkonsentrasi cukup lama untuk menulis.
  • Tentukan tangan yang dominan bagi anak. Kalo anak memang terlihat lebih dominan menggunakan tangan kiri, jangan dipaksakan menulis dengan tangan kanan.

Di zaman serba internet ini, banyaaaaaaaak sekali ide-ide kegiatan untuk mendukung keterampilan motorik halus anak. Kegiatan-kegiatan pra menulis itu bukan melulu menggunakan pensil/krayon. Bukan melulu mencoret-coret atau menggambar. Intinya adalah kegiatan-kegiatan yang meningkatkan koordinasi tangan dan mata anak. Aktivitas-aktivitas yang bisa dicoba adalah:

  • Meronce
  • Bermain Play-doh (playdough), kegiatan yang meliputi gerakan menggiling dengan tangan atau dengan bantuan rolling pin.
  • Menggunakan gunting untuk menggunting bentuk-bentuk geometri (segitiga, lingkaran, persegi, dll)
  • Menggunakan penjepit untuk mengambil benda. (Kalo gue pake penjepit makanan yang buat ambil gorengan itu lho.. awalnya Zara pake penjepit yang gede, tapi makin besar keterampilan motorik halusnya memang makin baik dan bisa pakai penjepit yang kecil).
  • Kegiatan sehari-hari yang terkait dengan kekuatan jari seperti membuka botol minum, penutup selai, dll..
  • Berlatih membuat bentuk-bentuk dasar (l, —, O, +, /, persegi, \, X, and Δ).
  • Membuat kerajinan tangan misalnya membuat topeng dari kertas, kardus, dll.
  • Bermain lego, balok, dan sejenisnya.

Plus ditambah dengan “tren” ibu-Montessori di instagram/pinterest, makin banyak ide permainan yang bisa kita coba di rumah.

“Duuuhhhh tapi saya ga bisa bikin sensory play ala-ala ibu-ibu kece di instagram…”

Tenang, YOU ARE NOT ALONE. Hahhahahaha.. Gue adalah ibu-ibu cupu yang keterampilan motorik halusnya tergolong menyedihkan *Yang pernah liat tulisan tangan gue pasti langsung teriak “SETUJUU” :)). Prinsip gue selalu: Lakukan yang bisa kita lakukan. Berikan yang kita mampu.

Ga perlu mahal-mahal lho, barang sehari-hari di rumah banyak yang bisa digunakan untuk melatih keterampilan motorik halus. Gue pribadi karena suka masak, biasanya suka melibatkan Zara di beberapa kegiatan. Mulai dari misahin bawang dari bonggolnya, motekin kangkung, ngaduk adonan pancake, daan lain sebagainya. Nah tapi syaratnya kalo mau mengikutsertakan anak di kegiatan sehari-hari, ortunya ga boleh bawel. Misalnya adonan jadi tumpah-tumpah, trus anaknya diomelin. Lha wong memang bukan tugas dia yaak :))

13507074_10153844616428845_5051098786651372438_n

*Zara dan bawang putih*

Nah, kalo anaknya sudah semakin terbiasa dengan aktivitas-aktivitas pra menulis, boleh deh mulai diajari menulis huruf. Biasanya di usia 5 tahunan anak mulai “matang”, tergantung perkembangan masing-masing anak ya.. Langkah-langkahnya:

  •  Mengikuti gari putus-putus
  • Mencontoh huruf
  • melihat huruf, ditutup, lalu mencoba menulis sendiri
  • Menulis huruf sendiri dari ingatan tanpa contoh

Selamat tulis-menulis yaaaaa

 

Referensi:

https://www.zerotothree.org/resources/305-learning-to-write-and-draw

https://childdevelopment.com.au/areas-of-concern/writing/writing-readiness-pre-writing-skills/

http://www.dcsi.sa.gov.au/

http://www.lizs-early-learning-spot.com/pre-writing-skills-essential-for-early-learners/